logo

MPR RI Micro Site

Sabtu, 22 September 2018 | Edisi : Indonesia
Majelis Show

Sarmuji: Kita Tidak Akan Kekurangan Ahli-Ahli Tata Negara

Senin, 28 Agu 2017 - 21:39:45 WIB
Ferdiansyah, TEROPONGSENAYAN
32Sarmuji-mpr.jpg
Sumber foto : Humas MPR
Sarmuji

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Sarmuji mengapresiasi lomba Debat Konstitusi dan Constitutional Drafting. Acara itu yang digelar dalam rangkaian Pekan Konstitusi MPR.

"Kegiatan seperti ini harus dilanjutkan," ujar Sarmuji saat menjadi juri pada babak penyisihan debat konstitusi, di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (28/8/2017).

Lebih lanjut alumni Universitas Jember itu mengatakan, Pekan Konstitusi MPR yang dimulai dari tanggal 26 hingga 31 Agustus 2017 merupakan kegiatan selain untuk mensosialisasikan Empat Pilar. Selain itu juga sebagai cara untuk memperkuat kemampuan mahasiswa untuk terus menerus belajar tata negara yang berkaitan dengan UUD NRI Tahun 1945.

Saat Sarmuji menjadi juri, ia mengamati debat yang ada sangat luar biasa. "Jauh dari ekspetasi saya," ungkapnya.

Dikatakan, para peserta berdebat seolah-olah adalah para ahli. "Baik yang pro maupun kontra," paparnya.

Para peserta disebut Sarmuji, menyampaikan argumentasi yang jelas, baik filosofi, yuridis, maupun sosiologisnya.

"Sehingga saya merasa optimis kita tidak akan kehilangan dan kekurangan ahli-ahli tata negara pada masa yang akan datang," ungkapnya.

Kegiatan seperti ini, diharapkan pesertanya diperluas agar seleksinya lebih ketat, pertarungan ide dan gagasan menjadi lebih intensif.

"Kita berharap bibit-bibit terbaik yang akan muncul dalam kontestasi ini," tukas Sarmuji mengharapkan.

Dikatakan oleh anggota juri yang lain, Ana Muamanah, diharapkan para peserta untuk lebih mengeskplore materi dalam perdebatan. Diungkapkan, dalam debat itu ada teknik sehingga bisa mengatur kuota waktu.

"Tadi ada yang mengulang-ulang kalimat," ujar perempuan anggota MPR dari Fraksi PKB itu.

Dirinya juga mengharap agar peserta tidak terburu-buru menyampaikan gagasan sehingga tidak kelihatan 'ngos-ngosan' dalam berdebat.

Sekjen MPR, Maruf Cahyono yang dalam kesempatan itu juga menjadi juri, dirinya memberi apresiasi kepada peserta debat. Diakui tak mudah untuk membangun argumentasi. "Inilah debat dalam rangka membangun sistem," ujarnya.

Peserta disebut sudah mendiskusikan dalam konsep dan implementasi dalam argumennya. "Tak ada pendapat salah dan benar tetapi yang ada adalah pengayaan argumentasi," tegasnya.

Salah satu peserta debat, Fitriyah, mengakui acara seperti itu bagus. "Buat mengakomodir aspirasi," ujar mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara itu.

Acara ini dikatakan sangat penting sebab diakui banyak generasi muda yang mulai lupa pada Empat Pilar. Dengan acara ini bisa menyadarkan kembali. Tim dari perguruan tinggi favorit di Sumatera Utara itu mempersiapkan diri selama sebulan. "Kita belajar penyampaian, urutan, dan substansinya," akunya.

Dalam Pekan Konstitusi MPR itu peserta dibagi dalam dua katagori, yakni Constitutional Drafting dan Debat Konstitusi. Peserta itu adalah Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret, Universitas Pelita Harapan, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Indonesia, Universitas Pattimura, Universitas Sumatera Utara, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, Universitas Islam Negeri Walisongo, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga.(yn)